Padd Solutions

Converted by Falcon Hive


This Song is For Ghaza, which told about the Ghaza atmosphere at this time...
LISTEN and read it with conscience. . !
THINK ABOUT IT ! !
WHAT WILL YOU DO???


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

"Jika kamu tidak memahami teman kamu dalam semua keadaan, maka kamu tidak akan pernah memahaminya sampai bila-bila."--Khalil Gibran--
Kebanyakakan dari kita berharap agar kita bisa di mengerti oleh orang lain. Komposisi kelompok ini jauh lebih mendominasi daripada sekelompok orang yang berusaha mengerti orang lain. Hal semacam ini tampaknya sudah lumrah dalam kehidupan manusia karena memang seperti inilah fitrah manusia. Mungkin karena hal inilah banyak pepatah, kata mutiara, nasehat-nasehat orang tua dan yang semisalnya mengatakan, “bila ingin hidup harmonis dan bahagia mesti ada saling pengertian antara kedua belah pihak”. Intinya bukan lagi mempertanyakan kenapa kamu tidak bisa mengerti aku karena hal ini menjadi rancu bila dihadapkan dengan pertanyaan, “siapakah yang harus mengerti? aku yang harus mengerti kamu, atau kamu mesti mengerti aku”. Idealnya sih sama-sama mengerti. Kamu mengerti aku, dan aku mengerti kamu. namun pada kenyataannya, kelompok yang mencoba saling pengerti ini jumlahnya jauh daripada orang-orang yang memaksakan egonya, dan dengan tanpa rasa bersalah berharapa orang lain mengerti tanpa peduli kalau orang lain juga layak untuk dipahami.

Kenyataan bahwa manusia ingin dimengerti sangatlah wajar. Menempatkan harapan-harapan kita untuk bisa dimengerti orang lain di pundak kawan-kawan kita, pasangan hidup, atau orang-orang dewasa lainnya bukan suatu kesalahan. Namun banyak juga yang menaruh harapan ini jauh diluar akal sehat. Bayangkan saja bila ada orang tua yang mengharapkan pengertian anak-anaknya yang usianya kurang dari dua belas tahun. Ia berharap anak-anaknya dapat memahami susahnya hidup yang ia jalani misalnya. Atau seorang anak yang telah dewasa secara umum berharap pengertian orang tuanya yang telah jompo dan begitu menginginkan perhatian lebih. Tentu saja bila keadaan ini dipaksakan akan banyak menimbulkan gejolak dalam kehidupan emosional kita. Kita mungkin bisa melihat anak-anak kita tampak begitu paham dengan apa yang kita harapkan. Tetapi apakah memang demikian. Bisa jadi mereka berbuat seperti itu bukan karena ia mengerti, melainkan karena ia tidak punya kuasa atas arogansi kita dalam memaksakan keinginan.

Semua itu hanyalah pendapat pribadi saya yang mencoba merenungi kenyataan hidup (wuih sok jadi filsuf nich..he..3x). Saya sendiri belum memiliki seorang anak ataupun orang tua Jompo, jadi bisa bicara banyak tentang idealisme ini. Entah kelak, bila saya mengalami sendiri masalah ini, mungkin saya bisa mengerti mengapa kita begitu berharap akan pengertian anak-anak dan orang tua kita. Pastinya saya selalu berdo’a agar kelak saya masih bisa ingat akan tulisan ini bila kenyataan itu datang menyapa jalan hidup saya. tentu saja saya juga berdo’a agar tidak salah mengerti akan meraka dan orang-orang lain yang menghiasi hidup saya. Karena saya tahu, salah mengerti tidak jauh berbeda dengan tidak mengerti

Al I'tiraf

Jumat, Desember 26, 2008 , 0 comments


Ilaahi lastu lilfirdausi ahlan
walaa aqwaa 'alannaaril jahimi
fahabli taubatan waghfir dzunuubi
fa innaka ghoofiruddzambil 'adziimi

Dzunuubi mitslu a'daadir rimaali
fahablii taubatan yaa dzaljalaali
wa'umrii naaqishun fiikulliyaumi
wa dzambii zaa-idum kaifahtimali

Ilaahi 'abdukal 'aashi ataaka
muqirron biddzunuubi waqod da'aaka
fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun
wa in tadrud faman narjuu siwaaka

Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu
Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka
Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar

Dosaku seperti jumlah pasir
Maka terimalah pengakuan taubatku Wahai Pemilik Keagungan
Dan umurku berkurang setiap hari
Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu
Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu
Seandainya Engkau mengampuni
Memang Engkaulah Pemilik Ampunan
Dan seandainya Engkau menolak taubatku
Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-MU