Padd Solutions

Converted by Falcon Hive

Tampilkan postingan dengan label TAFAKKUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAFAKKUR. Tampilkan semua postingan


M. Syamsi Ali*

Dua minggu lalu, selepas jum’at saya menemukan secarik kerta di atas meja kantor saya di Islamic Cultural Center of New York. Isinya kira-kira berbunyi ‘I have been trying to reach you but never had a good luck! Would you please call me back? Karen’.

Berhubung karena berbagai kesibukan lainnya, saya menunda menelpon balik Karen higga dua hari lalu. ‘Oh….thank you so much for getting back to me!’, jawabnya ketika saya perkenalkan diri dari Islamic Center of New York. ‘I am really sorry for delaying to call you back’, kata saya, sambil menanyakan siapa dan apa latar belakang sang penelpon.

‘Hi, I am sorry! My name is Karen Henderson, and I am a professor at the NYU (New York University)’, katanya.

‘And so what I can do for you?’ tanyaku. Dia kemudian menanyakan jika saya ada beberapa menit untuk berbicara lewat telpon. ‘Yes, certainly I have, just for you, professor!’ candaku. ‘Oh.. that is so kind of you!’, jawabnya.

Karen kemudian bercerita panjang mengenai dirinya, latar belakang keluarganya, profesinya, dan bahkan status sosialnya.

‘I am a professor teaching sociology at the New York University’, demikian dia memulai. Namun menurutnya lagi, sebagai sosiolog, dia tidak saja mengajar di universitas tapi juga melakukan berbagai penelitian di berbagai tempat, termasuk luar negeri. Karen sudah pernah mengunjungi banyak negara untuk tujuan penelitiannya, termasuk dua negara yang justeru disebutnya sebagai sumber inspirasi. Yaitu Pakistan dan Afghanistan.

‘I spent more than 3 years in those countries, and mostly in villages’, katanya. ‘During those three years, I have a lot memories about the people. They are simply amazing’, lanjutnya.

Tidak terasa Karen berbicara di telpon hampir 20 menit. Sementara saya hanya mendengarkan dengan serius dan tanpa menyela sekalipun. Selain karena cara Karen berbicara sangat menarik, informative dan disampaikan dalam bahasa yang jelas, saya menjadi lebih tertarik mendengar. Mungkin karena dia adalah seorang professor, jadi dalam berbicara dia sangat sistimatis dan eloquent.

‘Karen, that is a very interesting story. I am sure what you did experience in Pakistan I did as well. I lived in Pakistan 7 years, and had an opportunity to visit
many of those areas you did mention’, kataku.

‘But what did you want to tell me out this story?’, tanyaku lagi

Nampaknya Karena menarik napas, lalu menjawab. Tapi kali ini dengan suara lembut dan agak lamban. ‘Sir, I wanted to know further Islam, the religion of those people. They are sweet people, and I think I have inspired by them in many ways’, katanya.

Tapi karena waktu yang tidak terlalu mengizinkan untuk saya banyak berbicara lewat telpon, saya meminta Karen untuk datang ke Islamic Center keesokan harinya (Sabtu lalu). Diapun menyetujui dan disepakatilah pukul 1:30 siang, persis jam ketika saya mengajar di kelas khusus non Muslim, Islamic Forum for non Muslims.


Keesokan harinya, Sabtu, saya tiba agak telat. Sekitar pukul 12 siang saya tiba, dan pihak security menyampaikan bahwa dari tadi ada seorang wanita menunggu saya. ‘She is the mosque’ (maksudnya di ruang shalat wanita). Saya segera meminta security untuk memanggil wanita tersebut ke kantor untuk menemui saya.

Tak lama kemudian datangnya seorang wanita dengan pakaian ala Asia Selatan (India Pakistan). Sepasang shalwar dan Gamiz, lengkap dengan penutup kepala ala kerudung Benazir Bhutto. ‘Hi, sorry for coming earlier! I can wait at the mosque, if you are still busy with other things’, kata wanita baya umur 40-an tahun itu. Dia jelas Amerika berkulit putih, kemungkinan keturunan Jerman.

‘Not at all, professor! I am free for you’, jawabku sambil tersenyum. ‘Have your seat, but let me go around the school for five minutes’, mintaku untuk sekedar melihat-lihat weekend school program hari itu.

Setelah selesai melihat-lihat beberapa kelas pada hari itu, saya kembali ke kantor. ‘I am sorry Professor!’, sapaku. ‘Please do call me by name, Karen!’, pintanya sambil tersenyum. ‘You know, I like to address people respectfully, and I really did not know how to address you’, kataku. ‘In some countries, people love to be known with their professional title. But I know Americans are not’, lanjutku sambil ketawa kecil.

Kita kemudian hanyut dalam pembicaraan dalam berbagai hal, mulai dari isu hangat tentang kartun Nabi Muhammad SAW di sebuah komedi kartun Amerika, hingga kepada asal usul Karen itu sendiri. ‘I am a Jew by birth. My Parents are Jews, but you know, especially my father, he doesn’t believe in the religion any more’, katanya. Bahkan menurutnya, ayahnya itu seringkali menilai konsep tuhan sebagai sekedar alat repression (menekan) sepanjang sejarah manusia.

Namun menurut Karen, walaupun tidak percaya agama dan mengaku tidak percaya tuhan, ayahnya masih juga merayakan hari-hari besar Yahudi, seperti Hanukkah, Sabbath, dll. ‘These celebrations, as most Jews do, are no more than heritage traditions’, jelasnya. ‘Judaism is think not a religion, in the sense that it is mo
re about culture and family’, sambungnya lagi.

Dalam hatiku saya mengatakan bahwa semua itu bukan baru bagi saya. Sekitar 60 persen atau lebih Yahudi di Amerika Serikat adalah dari kalangan sekte ‘Reform’ (Pembaharu). Mereka ini ternyata telah melakukan reformasi mendasar dalam agama mereka, termasuk dalam hal-hal akidah atau keyakinan. Sekte Reform misalnya sama sekali tidak percaya lagi kepada kehidupan akhirat. Saya masih teringat dalam sebuah diskusi di gereja Marble Collegiate tahun lalu tentang konsep kehidupan. Pembicaranya adalah saya dan seorang Pastor dan Rabbi dari Central Synagogue Manhattan. Ketika kita telah sampai kepada isu hari Akhirat, Rabbi tersebut mengaku tidak percaya.

Tiba-tiba salah seorang hadirin yang juga murid muallaf saya keturunan Rusia berdiri dan bertanya ‘And so, if you don’t believe in the
life after death, why you have to go to your synagogue, worship, wearing yarmukka, giving charity, etc.? Why do you think it is necessary to be honest, be helpful to others? And why we have to avoid things we must avoid?’, tanyanya panjang lebar.

Sang Rabbi hanya tersenyum dan menjawab singkat ‘we do al
l those because that what we have to be and do’.

Mendengar jawaban sang Rabbi, semua hadirin hanya tersenyum, dan bahkan banyak yang tertawa.

Kembali ke Karen, kita kemudian hanyut dalam dialog tentang konsep kebahagiaan. Menurutnya, sebagai seorang sosiolog, dia telah melakukan banyak penelitian dalam berbagai hal yang berkaitan dengan bidangnya. Pernah ke Amerika Latin, Afrika, beberapa
negara Eropa, dan juga Asia, termasuk Asia Selatan. ‘But one thing I have to tell, those Pakistanis and Afghanis are simply amazing people’, katanya. ‘What really amazed about them?’ tanyaku.

‘Many, their religiosity and commitment to the religion, among others. But I think the most amazing about them is their strength and enduring in nature in their daily life’, katanya panjang lebar. ‘I am amazed how these people are so strong and looking happy despite the very challenging life that
they are in’, jelasnya lagi.

Saya tidak pernah menyangka kalau Karen tiba-tiba meneteskan air mata di tengah-tengah pembicaraan kami. Dia seorang pr
ofessor yang senior, walau masih belia dalam umur. Tapi juga pengalamannya yang luar biasa, menjadikan saya lebih banyak mendengar. Di tengah-tengah membicarakan ‘kesulitan hidup’ orang-orang Afghanistan dan Pakistan, khususnya di daerah pegunungan-pegunungan, dia meneteskan air mata tapi sambil melemparkan senyum. ‘I am sorry, I am very emotional with this story?’, katanya.

Segera saya ambil kendali. Saya bercerita tentang konsep kebahagiaan menurut ajaran Islam. Bahkan berbicara panjang lebar tentang kehidupan dunia sementara, dan bagaimana Islam mengajarkan kehidupan akhirat itu sendiri. ‘No matter how do you live your life here, it is temporary and unfulfilling. There must be some where, sometime where we will live eternally and all dreams and wishes will be fulfilled’, jelasku. ‘This belief gives us an immense strength and determination to live our lives at fullest, no matter how circumstances may surround that life itself’.

Tanpa terasa adzan Dhuhr dikumandangkan. Saya pun segera berhenti berbicara. Nampaknya Karen paham bahwa ketika adzan didengarkan maka kita seharusnya mendengarkan dan menjawab. Mungkin dia sendiri tidak paham apa yang seharusnya diucapkan, tapi dia tersenyum ketika saya meminta maaf berhenti berbicara.

Setelah adzan saya melanjutkan sedikit, lalu saya tanya kepada Karen. ‘And so, what really makes you calling me the other day?’

‘I want to tell you that my mind constantly remember those people. My memory reminds me about how they happy are, while we Americans with all this fancy life, lacking of happiness..!’, katanya seolah marah.

‘And so what makes you c
ontacting me? I mean why do you have to come and discuss with me?’ pancingku lagi.

Karen merubah posisi duduknya, tapi nampak sangat serius lalu berkata ‘I’ve thought this for long time. But I really don’t know what to do and how to proceed it. I wanted to become a Muslim!’, katanya mantap.

Saya segera menjelaskan bahwa untuk menjadi Muslim itu sebenarnya sangat mudah. Yang susah adalah proses menemukan hidayah. Jadi nampaknya anda sudah melalui prose situ, dan kini sudah menuju kepada jenjang akhir. ‘My question to you is are you really convinced that this is the religion that you believe to be the Truth?’, kataku lagi.

‘Yes, certainly no doubt!’, jawabnya tegas.

Saya segera memanggil salah seorang guru weekend school wanita untuk mengajarkan kepada Karen mengambil wudhu. Ternyata dia sudah bias wudhu dan shalat, hanya belum hafal bacaan-bacaan shalat tersebut.

Selepas shalat Dhuhur, Karen saya tuntun melafalkan ‘Ash-hadu an laa ilaaha illa Allah wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah’, dengan penuh khusyu’ dan diikuti pekikan takbir ratusan jama’ah yang hadir.

Hanya doa yang menyertai semoga Karen Henderson dijaga dan dikuatkan dalam iman, tumbuh menjadi pejuang Islam di bidangnya sebagai professor ilmi-ilmu social di salah satu universitas bergengsi di AS. Amin!

New York, 26 April 2010


* Syamsi Ali adalah dai kondang di Amerika Serikat. Kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 5 Oktober 1967. Menjadi imam masjid Islamic Center, masjid terbesar di New York. Ia juga menjadi imam di Masjid Al-Hikmah, masjid milik komunitas Islam asal Indonesia

Ia pernah tampil sepanggung dengan mantan Presiden AS Bill Clinton, ratu talk show Oprah Winfrey, dan Gubernur Negara Bagian New York George Pataki dalam sebuah acara bertajuk “A Prayer for America”.

Acara ini dihadiri oleh 50 ribu orang dari berbagai ras, warna kulit, dan agama. Syamsi mengutip surat Al-Hujarat ayat 13, tentang asal-usul manusia yang diciptakan Tuhan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tidak ada yang lebih mulia, kecuali mereka yang bertakwa. Syamsi ingin mengatakan kepada public Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persauadaraan manusia.


sumber : myQuran.com
Iman itu terkadang menggelisahkan. Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.
Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

“..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur.” (Saba’ 13)

salim a. fillah
DAN UCAPKANLAH KEPADA IBU-BAPAKMU PERKATAAN YANG MULIA DAN RENDAHKANLAH DIRIMU TERHADAP KEDUANYA DENGAN PENUH KASIH SAYANG DAN DO'AKANLAH:'WAHAI ROBB-KU, KASIHANILAH KEDUANYA SEPERTI KEDUANYA TELAH MENDIDIK AKU DI WAKTU AKU KECIL'." (QS. AL ISRAA':23-24)




Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang dahulu.
Mengertilah,
bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup,
ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar,
bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah
beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku,
jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara
untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang teknologi dan hal-hal baru,
jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan,
ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita,
berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,
asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua,
janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku,
seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai
belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana
menjalani kehidupan ini,

Sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa
syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.
ur Dad & Mom

This Song is For Ghaza, which told about the Ghaza atmosphere at this time...
LISTEN and read it with conscience. . !
THINK ABOUT IT ! !
WHAT WILL YOU DO???


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

"Jika kamu tidak memahami teman kamu dalam semua keadaan, maka kamu tidak akan pernah memahaminya sampai bila-bila."--Khalil Gibran--
Kebanyakakan dari kita berharap agar kita bisa di mengerti oleh orang lain. Komposisi kelompok ini jauh lebih mendominasi daripada sekelompok orang yang berusaha mengerti orang lain. Hal semacam ini tampaknya sudah lumrah dalam kehidupan manusia karena memang seperti inilah fitrah manusia. Mungkin karena hal inilah banyak pepatah, kata mutiara, nasehat-nasehat orang tua dan yang semisalnya mengatakan, “bila ingin hidup harmonis dan bahagia mesti ada saling pengertian antara kedua belah pihak”. Intinya bukan lagi mempertanyakan kenapa kamu tidak bisa mengerti aku karena hal ini menjadi rancu bila dihadapkan dengan pertanyaan, “siapakah yang harus mengerti? aku yang harus mengerti kamu, atau kamu mesti mengerti aku”. Idealnya sih sama-sama mengerti. Kamu mengerti aku, dan aku mengerti kamu. namun pada kenyataannya, kelompok yang mencoba saling pengerti ini jumlahnya jauh daripada orang-orang yang memaksakan egonya, dan dengan tanpa rasa bersalah berharapa orang lain mengerti tanpa peduli kalau orang lain juga layak untuk dipahami.

Kenyataan bahwa manusia ingin dimengerti sangatlah wajar. Menempatkan harapan-harapan kita untuk bisa dimengerti orang lain di pundak kawan-kawan kita, pasangan hidup, atau orang-orang dewasa lainnya bukan suatu kesalahan. Namun banyak juga yang menaruh harapan ini jauh diluar akal sehat. Bayangkan saja bila ada orang tua yang mengharapkan pengertian anak-anaknya yang usianya kurang dari dua belas tahun. Ia berharap anak-anaknya dapat memahami susahnya hidup yang ia jalani misalnya. Atau seorang anak yang telah dewasa secara umum berharap pengertian orang tuanya yang telah jompo dan begitu menginginkan perhatian lebih. Tentu saja bila keadaan ini dipaksakan akan banyak menimbulkan gejolak dalam kehidupan emosional kita. Kita mungkin bisa melihat anak-anak kita tampak begitu paham dengan apa yang kita harapkan. Tetapi apakah memang demikian. Bisa jadi mereka berbuat seperti itu bukan karena ia mengerti, melainkan karena ia tidak punya kuasa atas arogansi kita dalam memaksakan keinginan.

Semua itu hanyalah pendapat pribadi saya yang mencoba merenungi kenyataan hidup (wuih sok jadi filsuf nich..he..3x). Saya sendiri belum memiliki seorang anak ataupun orang tua Jompo, jadi bisa bicara banyak tentang idealisme ini. Entah kelak, bila saya mengalami sendiri masalah ini, mungkin saya bisa mengerti mengapa kita begitu berharap akan pengertian anak-anak dan orang tua kita. Pastinya saya selalu berdo’a agar kelak saya masih bisa ingat akan tulisan ini bila kenyataan itu datang menyapa jalan hidup saya. tentu saja saya juga berdo’a agar tidak salah mengerti akan meraka dan orang-orang lain yang menghiasi hidup saya. Karena saya tahu, salah mengerti tidak jauh berbeda dengan tidak mengerti

Al I'tiraf

Jumat, Desember 26, 2008 , 0 comments


Ilaahi lastu lilfirdausi ahlan
walaa aqwaa 'alannaaril jahimi
fahabli taubatan waghfir dzunuubi
fa innaka ghoofiruddzambil 'adziimi

Dzunuubi mitslu a'daadir rimaali
fahablii taubatan yaa dzaljalaali
wa'umrii naaqishun fiikulliyaumi
wa dzambii zaa-idum kaifahtimali

Ilaahi 'abdukal 'aashi ataaka
muqirron biddzunuubi waqod da'aaka
fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun
wa in tadrud faman narjuu siwaaka

Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu
Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka
Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar

Dosaku seperti jumlah pasir
Maka terimalah pengakuan taubatku Wahai Pemilik Keagungan
Dan umurku berkurang setiap hari
Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu
Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu
Seandainya Engkau mengampuni
Memang Engkaulah Pemilik Ampunan
Dan seandainya Engkau menolak taubatku
Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-MU

Indahnya Malam Pertama

Selasa, Desember 09, 2008 2 comments


Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak Ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan....
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., Dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya.... . Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah
kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan... .
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi ....sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga

Saya hampir membuang postingan ini namun saya telah diberi anugerah untuk membaca terus hingga ke akhir.
ALLAH, bila saya membaca postingan ini, saya pikir saya tidak ada waktu untuk ini....
Lebih lebih lagi diwaktu kerja. Kemudian saya tersadar bahwa pemikiran semacam inilah yang ....
Sebenarnya, menimbulkan pelbagai masalah di dunia ini.

Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada hari Jum'at......
Mungkin malam JUM'AT?
Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA?
Kita suka ALLAH pada masa kita sakit....
Dan sudah pasti waktu ada kematian...

Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang untuk ALLAH waktu bekerja atau bermain?
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan sewajarnya mengurus sendiri
tanpa bergantung padaNYA.

Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka... ...
Bahwa nun di sana masih ada tempat dan waktu
dimana ALLAH bukan lah yang paling utama dalam hidup ku (nauzubillah)

Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala yang telah DIA berikan
kepada kita.
DIA telah memberikan segala-galanya kepada kita sebelum kita meminta.

ALLAH
Dia adalah sumber kewujudanku dan Penyelamatku
IA lah yang mengerakkan ku setiap detik dan hari.
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.

Susah vs. Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan kebenaran?

Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika selesai ceramah kita segar
kembali?
Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama tetapi kita bangga mem
"forward" kan email yang tak senonoh?
Hadiah yang paling istimewa yang pernah kita terima.
Solat adalah yang terbaik.... Tidak perlu bayaran , tetapi ganjaran
lumayan.
Notes: Tidak kah lucu betapa mudahnya bagi manusia TIDAK Beriman PADA
ALLAH
setelah itu heran kenapakah dunia ini menjadi neraka bagi mereka.

Tidakkah
lucu bila seseorang berkata "AKU BERIMAN PADA ALLAH" TETAPI SENTIASA
MENGIKUT SYAITAN. (who, by the way, also "believes" in ALLAH ).

Tidakkah
lucu bagaimana anda mampu mengirim ribuan email lawak yang akhirnya
tersebar bagai api yang tidak terkendali., tetapi bila anda mengirim
email mengenai ISLAM, sering orang berpikir 10 kali untuk berkongsi?

Tidakkah
mengherankan bagaimana bila anda mulai mengirim pesan ini anda tidak
akan mengirim kepada semua rekan anda karena memikirkan apa tanggapan
mereka terhadap anda atau anda tak pasti apakah mereka suka atau
tidak?.

Tidakkah mengherankan bagaimana anda merasa risau akan tanggapan orang
kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap anda.

Aku berDOA , untuk semua yang mengirim pesan ini kepada semua rekan
mereka di rahmati ALLAH.

Andai AlQuran Bisa Bicara

Selasa, Desember 09, 2008 0 comments


Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....
Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku hanya kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa,
engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku
(Bismillahirrahmnairrahiim)

Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku....????

Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV Menonton
pertandingan Liga Italia, musik atau Film dan Sinetron laga

Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk hanya untuk sekedar membaca
berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan?
Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
Di kuburmu nanti....
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu
Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah "AlQur'an" kitab sucimu
yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari karena ayat-ayat
yang ada padaku adalah ayat suci Yang berasal dari
Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali...
Baca dan pelajari lagi aku....
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu....dulu sekali...
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos...

Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan biarkan aku sendiri....
Dalam bisu dan sepi....

WANITA PENGHUNI NERAKA

Minggu, Oktober 26, 2008 0 comments


Di antara fitnah yang diberitakan oleh Nabi Muhammad SAW disebutkan dalam hadits shahih, antara lain bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Ada dua golongan manusia (penghuni neraka) dari kalangan ummatku yang sekarang belum kulihat keberadaannya, yaitu segolongan orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli orang lain dan segolongan wanita yang berpakaian tetapi telanjang dengan langkah yang berlenggak-lenggok memikat lawan jenisnya; (rambut) kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak bakal mencium bau surga." (HR. Muslim dan Ahmad).

Adapun mengenai kaum wanita yang dimaksud adalah wanita yang pada masa sekarang kita telah melihatnya. Mereka berpenampilan memikat hati dan menawan jiwa. Cara jalan mereka diatur sedemikian rupa lenggang-lenggoknya untuk menarik lawan jenisnya dan ternyata pengaruhnya demikian hebat. Kini, banyak pemudi Islam keluar dari rumah orangtuanya dengan merias dirinya dan mengenakan wewangian yang seronok, dan menanggalkan ajaran laa ilaaha illallaah ke belakang punggungnya seakan-akan memamerkan kepada para penjahat, "Lihatlah! Ini aku!" Selanjutnya, ia pulang dan apa yang dibawanya? Tentu saja ia kembali dengan membawa laknat Allah. Semoga Allah menghindarkan kita dari fitnah ini. Dalam hadits shahih disebutkan juga bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Wanita yang mengenakan farfumnya, kemudian berlalu di hadapan kaum lelaki agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia sama saja dengan wanita tuna susila." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa'i).

Demikian itu karena mata jalang mereka pasti akan memandangnya. Oleh karena itu, wahai kaum wanita, hindarilah fitnah ini! Hindarilah fitnah ini! Rasulullah SAW telah bersabda, "Aku tidak meninggalkan pada ummatku suatu fitnah pun yang lebih membahayakan kaum lelaki, selain wanita." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).

Iblis tidak mampu menyesatkan banyak manusia yang mendapat petunjuk, kecuali melalui wanita. Oleh karena itu, saya katakan kepada kaum wanita, mudah-mudahan ada yang mau mendengar dan mudah-mudahan hati mereka terketuk. Mudah-mudahan mereka merenungkan dan memikirkannya dengan hati yang jernih. Wahai saudariku, wahai ibuku, wahai wanita muslimah, bertakwalah kepada Allah dalam memelihara iman dan kehormatanmu. Bertaqwalah kepada Allah dalam memelihara iman dan kehormatanmu. Bertaqwalah kepada Allah dalam bergaul dengan masyarakat. Bertaqwalah kepada Allah dalam bergaul dengan para hamba dan memelihara negeri, karena engkaulah yang bertanggung jawab atas terjadinya fitnah bila menimpa mereka. Janganlah engkau menjadi penyebab terjerumusnya orang lain ke dalam marabahaya.

Wahai hamba perempuan Allah, jagalah rumahmu! Jagalah rumahmu (menetaplah di rumahmu)! Wahai hamba perempuan Allah, di kemanakankah imanmu? Manakah hasil pendidikan Nabi Muhammad SAW? Di kemanakankah firman Allah SWT, "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu..." (QS. Al-Ahzaab (33) : 33).



Imam Syafi'i pernah mengungkapkan sebuah ungkapan yang bunyinya : "Tafakkur satu jam, lebih baik dari ibadah satu tahun." Sepintas, ungkapan Imam Syafi'i tersebut berlebihan. Bagaimana mungkin sebuah amal yang dilakukan dalam rentang 1 jam, bisa lebih baik dari ibadah selama satu tahun?

Ungkapan Imam Syafi'i itu tentu tidak disampaikan dalam konteks perbandingan yang saling menafikan antara yang satu dengan yang lain. Imam Syafi'i tidak mengajak agar orang melakukan tafakkur satu jam, lalu tak perlu beribadah selama satu tahun. Sama sekali tidak. Ia hanya ingin menekankan pentingnya merenung, menghisab diri, mengevaluasi amal yang telah lalu, menekuri hidup, dan seterusnya. Sikap ini sangat penting dan bahkan menjadi syarat seseorang untuk mampu memiliki kualitas ibadah yang lebih baik.

Ada beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan agar kita terbiasa mengambil pelajaran dari masa lalu, baik dari apa yang telah dilakukan diri sendiri, maupun orang lain.

Merenung, Bermuhasabah, atau Mengevaluasi Amal dalam Satu Hari
Kebiasaan seperti inilah yang dilakukan seorang sahabat yang menurut Rasulullah sebagai ahli surga. Dalam hadits shahih disebutkan dalam tiga kesempatan Rasulullah menyinggung kedatangan sahabat calon penghuni surga itu di dalam majelis para sahabat. Ahli surga itu ternyata bukan ahli ibadah yang kuantitas ibadahnya melebihi para sahabat lain. Ia hanya kerap melakukan evaluasi diri menjelang tidurnya setiap malam, lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama muslim.
Dalam kitab "Bukaul Mabrur" yang mengulas tentang tangisan orang-orang shalih disebutkan perkataan salafushalih, "Para orangtua kami selalu menghitung diri dari apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka ucapkan, kemudian mereka menulisnya dalam sebuah daftar. Setelah shalat Isya', mereka mengeluarkan daftar amal dan ucapannya kemudian menimbangnya. Jika amalan yang diperbuat buruk dan perlu istighfar, maka mereka bertaubat dan beristighfar. Namun jika amalannya baik dan perlu disyukuri, mereka pun bersyukur kepada Allah hingga mereka tidur. Kami pun mengikuti jejak mereka. Kami mencatat apa yang kami perbuat dan menimbangnya."

Memiliki Agenda Harian untuk Mengevaluasi Amal-amal yang Telah Dilakukan
Agenda harian ini berisi daftar amal harian yang dianggap wajib dilakukan. Misalnya saja, kewajiban shalat Subuh dan Isya di masjid, memulai pekerjaan dengan Bismillah, membaca istighfar minimal 100 kali, membaca Al-Qur'an sekian halaman, dan sebagainya. Sebaiknya catat pula alasan, problem, dan hambatan yang menjadikan kita tidak mampu menunaikan amal-amal harian tersebut. Mencatat hambatan amal-amal baik akan menjadi bahan pengalaman agar bisa diantisipasi pada waktu selanjutnya. Sebagaimana setiap orang akan menerima lembaran-lembaran amalnya selama di dunia pada pengadilan akhirat nanti, setiap muslim sangat dianjurkan untuk menghitung-hitung sendiri amal-amalnya sejak di dunia. Tujuannya jelas, agar segala keburukan tidak terulang, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi. Umar RA memberi nasehat, "Hasibuu anfusakum, qabla an tuhasabuu." Hisablah amal-amal kalian sendiri, sebelum amal-amal kalian dihisab (oleh Allah di hari kiamat)."
Imam Hasan Al-Bashri mengatakan, "Sesungguhnya penghisaban di hari kiamat akan ringan bagi kaum yang telah menghisab amalannya di dunia, begitu pula sebaliknya penghisaban di hari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalannya di dunia."

Biasakan Menilai dan Mempertajam Kontrol Terhadap Diri Sendiri
Seseorang yang takjub dengan pribadi Hasan Al-Bashri pernah bertanya, "Siapa yang mendidikmu memiliki pribadi seperti ini?" Hasan Al-Bashri menjawab pendek, "Diriku sendiri." "Bagaimana bisa seperti itu?" tanya orang itu lagi. Hasan menguraikan, "Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri."
Sikap ulama shalih generasi Tabi'in itu jelas menekankan pentingnya seseorang mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa. Teorinya sederhana, meniru yang baik dan menghindari yang tidak baik. Tapi hasilnya, prinsip itulah yang melahirkan pribadi yang menakjubkan. Apa yang melatarbelakangi Hasan Al-Bashri berprinsip seperti itu? Tidak lain untuk menghindari kekeliruan masa lalu, baik yang dilakukan diri sendiri maupun orang lain. Itu kuncinya, sehingga dari hari ke hari ia selalu berupaya memperbaiki kepribadiannya.

Sadarilah bahwa Belajar dari Pengalaman Akan Menambah Kedewasaan dan Kebijaksanaan dalam Menyikapi Hidup
Semakin banyak orang bercermin terhadap masa lalu, maka ia akan semakin bijaksana dalam menentukan langkah. Saat mendapat kelapangan, seseorang tidak akan mudah larut oleh kesenangan. Ia berpikir bahwa ada kalanya lapang dan ada kalanya sempit. Saat mendapat kesulitan, ia juga tak mudah hanyut. Karena ia berpikir bahwa kesulitan akan silih berganti dengan kemudahan. Dan seterusnya. Perbandingan seperti ini membuat seorang mukmin tetap bersyukur apapun kondisi yang ia alami. Itulah variasi dan itulah wujud kesempurnaan hidup sehingga saling melengkapi. Tanpa sikap seperti ini, orang akan mudah terkena penyakit jiwa. Mudah gelisah dan selalu merasa tidak puas. Ia bahkan sulit merasa bahagia karena selalu terombang ambing oleh dinamika hidup itu sendiri.

Ketahuilah bahwa dalam Batas Tertentu Kesalahan dan Kekeliruan adalah Lumrah
Allah SWT tidak menciptakan manusia sempurna. Selalu saja ada manusia yang lebih di sini dan kurang di sana. Atau sebaliknya, lebih di sana dan kurang di sini. Sehingga prinsipnya jangan takut gagal dalam beramal. Tidak jarang, kegagalan dan kesalahan merupakan batu loncatan ke arah kebaikan. Setidaknya ia menjadi spirit untuk melakukan penebusan. Makna ini antara lain yang terkandung dalam pesan Rasulullah agar kita mengiringi segala keburukan yang kita lakukan dengan kebaikan. "Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Selami Sejarah Orang-orang yang Hidup di Masa Lalu
Dengan mengetahui masa lalu, berarti seseorang memiliki modal informasi berharga sebagai bekal perjalanan yang ia lakukan di masa mendatang. Peristiwa apapun, baik dilakukan oleh sebuah generasi maupun orang per orang, harus menjadi cermin perbandingan melangkah ke depan. Kehidupan ini tak ubahnya cermin pengulangan masa lalu. Silih berganti antara keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesedihan. Semuanya berputar dan berganti bagai pergantian siang dan malam. Firman Allah SWT, "Dan hari-hari itu kami pergilirkan di antara manusia..." (QS. Ali Imran : 140).
Itulah hikmah dari penjabaran sejarah perjuangan para Rasul dan Nabi yang tertuang dalam Al-Qur'an. Allah SWT membina mental perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya melalui uraian panjang tentang perjuangan para Nabi dan Rasul sebelum mereka. Jejak sejarah perjuangan itulah yang akan menjadi rambu bagi umat manusia sepanjang zaman dalam menegakkan kebenaran.
Fir'aun hanya satu tokoh sejarah yang diungkapkan Al-Qur'an. Ia merupakan simbol penguasa yang melakukan kekejaman dan penindasan terhadap rakyat, sekaligus memusuhi ajaran Allah SWT yang dibawa oleh Nabiyullah Musa AS. Mungkinkah saat ini muncul tokoh penguasa semacam Fir'aun? Justeru itulah inti pelajaran sejarah yang dipaparkan Al-Qur'an. Melihat sejarah sepak terjang Fir'aun, manusia diajak mengerti bagaimana bahayanya kejahatan yang datang dari sebuah kekuasaan. Lebih berbahaya dari kejahatan kriminal berupa pembunuhan atau perampokan.
Kisah Fir'aun juga memberi gambaran kepada para penegak kebenaran bahwa mereka akan selalu menghadapi gembong-gembong kejahatan. Karena setiap zaman memiliki 'Fir'aun'nya sendiri.

Seringlah Berdiskusi, Bertukar Pengalaman, Saling Menasihati dengan Orang-orang Shalih Tentang Berbagai Fenomena Hidup
Seorang pemikir menyebutkan, "Manusia itu ibarat burung yang bersayap sebelah." Tak mungkin bisa terbang, jika ia tak memiliki sayap pasangannya. Maka, ia hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat dan bekerjasama dengan orang lain. Begitulah analoginya, setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk bisa berhasil dalam hidup. Apa artinya?
Setiap orang harus bisa saling memberi dan membantu satu sama lain. Rasulullah mengistilahkan hal ini dengan sabdanya, "Setiap mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang lain." Cermin, sumber informasi paling akurat dan jujur tentang berbagai fenomena. Cermin tempat memperoleh penilaian tentang diri, kapan pun dan di mana pun. Cermin juga pandai menyimpan informasi hanya pada pihak yang langsung terkait dengan informasi itu.

Roda kehidupan takkan pernah berhenti bergulir. Hari demi hari terus berjalan. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menyongsong hari esok. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya membuat kita menjadi lebih baik dari yang telah lalu. Terlalu banyak pengalaman yang seharusnya menjadikan kita berhati-hati dan berhitung matang untuk melangkah. Terlalu banyak peringatan untuk menyadarkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Dikutip dari Kota Santri

MENGGAPAI CINTA ILAHI

Senin, Oktober 13, 2008 0 comments


Cinta adalah suatu hal yang kebanyakan manusia akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Cinta adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa. Mendapatkan cinta kasih dari makhluk adalah menyenangkan, apalagi jika cinta itu datang dari Sang Pencipta.

Cinta Allah kepada hamba-Nya merupakan perkara yang luar biasa dan besar, karunia yang melimpah dan tiada bisa diketahui nilainya, kecuali oleh orang yang telah mencapai ma’rifat akan Allah.

Jika seorang hamba mengetahui begitu luar biasanya arti cinta Allah kepada hamba-Nya, pastilah ia akan segera mencari jalan untuk menggapai cinta agung tersebut.

Inilah tiga hal di antara beberapa hal yang dapat ditempuh seorang hamba untuk mendapatkan cinta dari Allah.

Tadabbur Terhadap Al-Quran

Salah satu amalan yang sangat besar nilainya untuk mendapatkan cinta dari Allah adalah membaca Al-Quran sambil merenungkan dan memahami makna serta maksudnya.

Allah berfirman,

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, yang di dalamnya penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya, dan supaya mendapatkan pelajaran bagi orang-orang yang mau menggunakan akalnya.” (Shaad: 19)

Amalan ini mempunyai tujuan yang agung dan sangat penting. Tujuan dari tadabbur Al-Quran adalah agar hati seorang hamba senantiasa disibukkan dengan merenungi arti dari kalimat yang dibaca, dan dengan indra yang dimiliki, ia menjawab setiap ayat yang dibaca. Pada setiap ayat yang sesuai, ia berdoa, memohon ampunan, rahmat, serta memohon perlindungan dari siksa pedih di akhirat kelak.

Tiada suatu amalan yang lebih bermanfaat daripada membaca Al-Quran dengan tadabbur dan tafakkur. Karena yang demikian ini telah mencakup seluruh aktivitas mendekatkan diri kepada Allah. Amalan ini mampu melahirkan cinta, rasa takut dan pengharapan, serta seluruh hal yang mengakibatkan hidupnya hati. Seandainya orang-orang mengetahui manfaat yang terkandung di dalam amalan ini, maka pastilah mereka akan terus-menerus membaca Al-Quran dengan tadabbur dan melupakan aktivitas yang lain.

Membaca satu ayat dengan tadabbur dan memahami maknanya adalah lebih baik, jika dibandingkan dengan mengkhatamkan Al-Quran tanpa memahami maknanya. Yang pertama lebih bermanfaat bagi hati, lebih efektif dalam menggapai keimanan dan mereguk manisnya Al-Quran. Inilah amalan rutin para ulama salaf.

Amalan Fardhu Kemudian Sunnah

Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah yang fardhu merupakan jalan pula untuk mendapatkan cinta dari Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang untuknya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku fardhukan kepada mereka. Dan hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintai mereka…”(Riwayat Al-Bukhari)

Ibnu Taimiyah berkata bahwa wali Allah yang benar-benar wali adalah mereka yang beriman dan bertaqwa. Sebagaimana firman Allah,

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (Yunus: 62-63)

Hadits di atas mengandung kesimpulan bahwa yang menyebabkan didapatinya cinta Allah itu karena melaksanakan dua perkara. Pertama, melaksanakan segala yang telah difardhukan oleh-Nya. Sedangkan kedua, mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengamalkan ajaran-ajaran yang telah disunnahkan oleh Rasul-Nya. Allah juga mengabarkan bahwa melaksanakan amalan fardhu itu adalah lebih Dia cintai.

Hamba yang dicintai Allah itu senantiasa memperbanyak amalan-amalan sunnah, sehingga derajatnya meningkat menjadi kekasih Allah. Jika hamba tersebut telah menjadi kekasih Allah, maka kecintaan Allah kepadanya mengakibatkan lahirnya cinta baru kepadanya yang lebih besar dari cinta yang pertama.

Dzikir

Cara lain untuk menggapai cinta Allah adalah dengan terus-menerus berdzikir kepada-Nya dalam berbagai keadaan.

Ibnu Rajab dalam Ikhtiyarul Ula mengatakan bahwa amalan yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada kecintaan Allah, yang sekaligus merupakan tanda-tanda bagi hamba yang mencintai-Nya adalah memperbanyak dzikir dengan hati maupun lisan.

Allah berfirman, “Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” (Al-Jumuah: 10)

Di dalam Al-Quran, Allah banyak menyebutkan dzikir sebagai penyerta amal-amal salih, misalnya salat, puasa, salat Jumat, haji, dan jihad.

Dzikir kepada Allah ada beberapa macam, di antaranya adalah mengingat serta memuji Allah dengan menggunakan nama-Nya serta sifat-sifat mulia lainnya yang melekat pada-Nya, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan tamjid, kemudian juga mengingat Allah dengan menyebutkan hukum, perintah, serta berbagai larangan-Nya.

Tiga amal salih di atas merupakan amal-amal agung yang ampuh untuk meraih cinta dari-Nya. Walaupun tampak ringan, namun tidak mudah untuk dilakukan kecuali bagi orang yang Allah mudahkan. Sebaik-baik amal salih adalah yang kontinyu, walaupun terasa sedikit. Dan hendaknya begitulah tiga amal ini dilaksanakan, agar kita senantiasa mendapatkan cinta dari Allah. (Abu Ukasyah)


Sumber: Di Bawah Naungan Cinta. Abdul Hadi Hasan Wahbi. Pustaka Azzam
Dikutip dari Dudungnet

La Takhaf Wa La Tahzan

Sabtu, Oktober 11, 2008 0 comments


Bukanlah hal yang menyenangkan ketika kita harus hidup berpisah jauh dari keluarga. Kuliah seringkali menjadi salah satu penyebabnya. Senang karena alhamdulillah impian yang kita impi-impikan come true. akan tetapi kesenangan selalu di barengi dengan kesedihan yang disebabkan karena harus berpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Dengan penuh harapan, semoga ini adalah pilihan yang terbaik. Agak cemas juga, di tempat yang baru nanti bisa senyaman dengan yang sekarang tidak ya?


Laa takhaf wa laa tahzan, innallaha ma'anaa.

Jangan takut dan jangan bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita. Di sinilah indahnya Islam. Dalam QS Al Hujuraat ayat 10, Allah berfirman:

Innamal mukminunal ikhwah

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Artinya, di manapun kita berada, walaupun jauh dari sanak keluarga, namun, ketika kita bersama dengan orang-orang yang beriman, pada hakikatnya kita tengah berkumpul dengan saudara kita pula.

Don’t worry, be happy. Berada di tempat yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, dengan lingkungan dan kebiasaan yang baru, memang bisa menimbulkan stres kalau tidak siap. Namun, berada di tempat yang baru, adalah juga berarti kesempatan untuk mendapat teman baru, bertambah sahabat dan memperbanyak saudara.
Imam Ghazali mengatakan bahwa persaudaraan antara orang beriman semata-mata karena iman adalah persaudaraan yang kukuh. Maka berbahagialah mereka yang menjalin persaudaraan karena ikatan iman, dengan orang-orang shaleh di sekitarnya, di rumah, kontrakan, kos, kampus, fakultas, organisasi, paguyuban, di mana saja. Apalagi di lembaga dakwah kampus, tempat berkumpulnya orang-orang shaleh yang satu fikrah, satu visi dan misi, satu tujuan, yang saling beramal jama’i dalam dakwah.


Persaudaraan di antara dua orang, kata Imam Ghazali, akan sempurna hanya apabila keduanya berteman untuk satu tujuan, sehingga mereka seperti satu jiwa. Hal ini akan mengharuskan mereka berdua untuk saling berpartisipasi dalam keadaan senang dan susah. Sebesar persaudaraan ini, sebesar pula seseorang akan merasakan nikmatnya dakwah menuju Allah dan nikmat bergabung dalam barisan Islam.

Nikmat saling menolong, saling memberi, saling berkunjung, akan mendatangkan nikmat yang lain pula, yaitu cinta Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Sesungguhnya Allah swt berfirman, ’Berhak atas cinta-Ku, (yaitu) orang-orang yang saling mengunjungi karena-Ku. Berhak atas cinta-Ku, (yaitu) orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Berhak atas cinta-Ku, (yaitu) orang-orang yang saling memberi karena-Ku. Dan berhak atas cinta-Ku, (yaitu) orang-orang yang saling menolong karena-Ku.” (HR. Ahmad dan Al Hakim)

So, let’s get it on. Ke manapun pergi, di manapun berada, yakinlah, you are not alone. Selama kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan senantiasa menjalin ukhuwah dengan orang-orang shaleh, maka di situ kita akan mendapatkan keluarga dalam ikatan persaudaraan yang kukuh, teman yang sebaik-baiknya.

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa’: 69).

Wallahu’alam bish shawab
Dikutip dari : Hudzaifah


Sebuah kajian tafsir coba kami sajikan di hadapan pembaca yang budiman. Dalam rubrik ini akan kami kupas masalah keseharian yang ada di lingkungan kita (pepohonan, dedaunan, dan hewan).

Akan tetapi banyak hal yang tidak kita ketahui, di balik tabir yang menutupi hati kita. Kita coba menyelami lautan tafsir yang akan menghantarkan kita pada perenungan ciptaan Allah yang Maha Dahsyat tetapi kadang malah terlewatkan oleh akal pikiran kita. Justru tanpa sadar kita lebih tergugah dengan buatan manusia yang serba canggih, di mana ciptaan manusia itu tiada bandingnya dengan apa yang telah diciptakan Allah untuk kita. Oleh karena itulah Allah menyuruh kita untuk selalu dan selalu belajar dan berpikir pada apa-apa yang ada di alam semesta ini, dan janganlah menjadi orang-orang yang sombong di muka bumi ini.

Ketika sebuah daun terjatuh dari ranting pohon, dengan warnanya yang agak menguning, atau bahkan masih berwarna hijau ranau, tergeletak di antara bayang-bayang kaki kita, sepintas menurut akal kita belum layak untuk gugur. Lalu kita singkirkan begitu saja, karena kita risih dengan keberadaannya, yang menurut kita hanya sebatas sampah. Padahal di balik itu ada makna mendalam yang tidak kita sadari.

Dedaunan dan beribu-ribu macam serangga di alam ini adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan untuk kita pelajari. Bayangkan, alangkah banyaknya jenis dedaunan di jagad ini, dan alangkah banyaknya jenis serangga yang mengitari kita pagi, sore, siang dan malam.

Menurut ahli tafsir, dedaunan diartikan sebagai seberkas ilmu dan secerca hikmah yang terbentuk dengan jelas untuk menuntun kita dalam memahami Firman Allah SWT :
سبحان الذي خلق الأزواج كلها مما تنبت الأرض ومن أنفسهم ... [36.36]

"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang telah ditumbuhkan di bumi dan dari diri mereka ..."

Maka dedaunan menurut ayat di atas termasuk di antara makhluk yang tumbuh di muka bumi, yang oleh Sang Pencipta Alam dibentuk dengan sedemikian rupa, dengan keindahan yang selalu menjadi pesona bagi manusia maupun makhluk ciptaan Allah dan menjadi penghias di bumi ini. Dari sinilah Allah memasukkan rahasia ilmu dan lautan hikmahNya untuk menjadi pelajaran kita sebagai makhluk yang paling sempurna agar mampu mempelajari rahasia Allah tersebut.

Di sisi lain, kita masih sering mengagung-agungkan karya manusia, seperti Thomas Alfa Edison si penemu dari Amerika itu, karena dia telah membantu kita menerangi rumah-rumah kita dengan bola lampu temuannya. Masyarakat dunia menyanjung dan membangga-banggakan seorang Edison, itu wajar, karena kita bisa merasakan manfaat penerangan itu. Tetapi ingat, Allah mempunyai maha karya yang tak kalah hebatnya dengan bola lampu karya Edison, yakni matahari, sebuah kumpulan gas hidrogen yang maha besar sebagai penerang jagad ini dan juga sebagai sumber kehidupan bagi makhluk-makhluk hidup yang ada di dalamnya, termasuk dedaunan. Berkat kasih sayangNya, kita semua dapat merasakan hangatnya sinar mentari yang terletak sekitar 3500 tahun perjalanan dengan menggunakan kereta api. Bayangkan apa yang akan terjadi apabila matahari diletakkan lebih dekat lagi, pastilah kita semua akan terbakar, apalagi untuk memancarkan sinarnya ke bumi, matahari hanya membutuhkan waktu kurang lebih 8 menit 18 detik.

Salah satu manfaat matahari yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup tumbuhan, khususnya daun adalah sinar ultraviolet (UV), dengan sinar ultraviolet yang ditimbulkan oleh bola lampu ciptaan Allah tersebut, bersama dengan zat hijau daun (klorofil) yang berada di jaringan beberapa daun tertentu, akan mengambil karbondioksida dan zat-zat asam arang di udara yang menjadi penyebab polusi, untuk diperoses menjadi oksigen yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup, dan membantu pula dalam proses pembentukan cadangan makanan yang nantinya akan disimpan pada buah dan bunga dalam sebuah pohon. Di sini dapat kita lihat, bagaimana sebuah proses fotosintesis, yang merubah sesuatu yang merugikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dibuat oleh Allah dengan sedemikian rupa, sehingga kita manusia, dapat mengambil pelajaran darinya.
................ ومما لا يعلمون

"...dan dari apa-apa yang tidak mereka ketahui."

Ayat ini bermakna bahwa hasil ciptaan manusia masih jauh lebih sederhana dari apa yang diciptakan Allah. Seperi apa yang telah ditemukan Edison dan para penemu yang seperti dia, tidak bisa membuat sebuah produsen jaringan sel seperti yang terbentuk di dalam sebuah daun, atau biasa disebut jaringan sel mikroskopis yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa, di mana sekeliling dari sel itu transparan dan lapisannya membentuk jaringan yang kokoh, yang di dalamnya ada saluran-saluran berisi klorofil yang bercabang dan saling berhubungan satu sama lain, Allaahu Akbar !!

Sesungguhnya ciptaan-ciptaan Edison dan ciptaan orang-orang sepertinya lebih logis menurut akal pikiran kita. Oleh karena itu kita lebih gampang menyanjung dan mengelukan seorang ilmuwan, daripada ciptaan-ciptaan Allah yang (terkadang) kurang logis bagi kita, karena kita sangat kurang mengetahui maksud dari penciptaan sebuah makhluk oleh Allah SWT. Tetapi di balik penciptaan makhluk Allah yang serba menakjubkan itu terdapat sebuah rahasia dan hikmah. Coba bayangkan saja, apabila manusia di bumi ini meneliti dan terus meneliti apa-apa tentang ciptaanNya, niscaya dunia ini akan kacau karena semua manusia akan beribadah karena mengetahui hakikat kebesaran Allah dan tidak melakukan aktifitas keduniawiannya.

Namun di dunia ini, keberadaan orang yang cemerlang akalnya dan mempunyai tingkat pemikiran jenius, sangat sedikit keberadaannya. Mereka sangat mencintai Allah karena keagungan dan ketakjuban ciptaanNya. Keberadaan mereka di muka bumi ini, tidak mengharapkan kehidupan kecuali mereka bisa menyenangkan generasi penerusnya, dan menjadi pengikut perintah Rabbnya, dengan dasar cinta yang mendalam yang dirangsang dari nilai-nilai tafakkur atas makhluk ciptaan Allah. Itulah eksistensi mereka sebagai tiang-tiang, yang kepadanya penduduk bumi bersandar dan mendapat petunjuk dari ciptaan Allah.

Mereka tidak memiliki kelezatan dan hiburan selain cinta, setiap kali mereka lalai dari Allah mereka merasa sedih dan merasa yakin bahwa mereka telah berdosa, hingga akhirnya mereka memohon ampun dariNya.Tatkala maut menjemput, mereka bersuka ria dan senang gembira. Dengan kematian itulah mereka akan berjumpa dan melihat sang Kekasih yang diidamkan selama hayatnya. Merekalah orang yang diklaim oleh Allah sebagai orang yang beruntung di dunia dan di akhirat.
Sumber : Al Bashiroh

TAFAKKUR_LANGIT

Sabtu, Oktober 11, 2008 0 comments

Dalam kitab ini Imam al-Ghazali mencoba menjembatani antara ilmu dunia dengan ilmu akhirat lewat proses tadabbur bil kholqillah (perenungan ciptaan Allah). Tadabbur yang sering kita lakukan akan membawa kita pada puncak keimanan yang luar biasa (Rusyukhul Yaqin), maka dengan dasar ini tidak ada salah kalau kita gunakan waktu sejenak untuk menambah kualitas Iman kita.

Alam dengan segala isinya akan mengantarkan kita pada pengamatan suatu konstruksi bangunan rumah dengan segala perabotnya. Kedudukan langit yang meninggi di angkasa diibaratkan sebuah atap rumah, sedangkan bumi terhampar seperti permadani dihiasi dengan berbagai motif alami, bintang-bintang gemerlapan layaknya lampu menerangi rumah kita. Sedangkan permata-permata tersimpan dalam lautan yang luas. Tidak ada satupun yang diciptakan Allah di bumi ini sia-sia.
ربنا ما خلقت هذا باطلا

Di sisi lain Allah menciptakan langit dan menjadikan warnanya paling indah dan kuat, dengan keserasian warna yang cocok untuk mata, malahan dari sisi medis bisa memperkuat daya pandang kita. Itulah Allah yang maha Bijaksana, dalam menciptakan langit dengan durasi warna yang tidak terlalu kuat (kontras), dengan itu akan menghindari kita dari kerusakan mata.


Fenomena lain yang Allah menanamkan dalam diri kita bahwa sifat warna hijau sangat di sukai oleh jiwa kita. Sebagaimana dengan warna biru pada langit yang cerah, senantiasa menyimpulkan kita pada pernyataan bahwa langit adalah pemandangan yang luar biasa. Disaat malam tiba, langit mulai beranjak kelam, karena matahari sedikit demi sedikit meninggalkan daerah yang disinarinya. Bintang dan bulan kembali menghiasi langit dengan kemiliau cahayanya, hingga manusiapun tak sanggup menandingi keindahan yang tiada habisnya ini.

Alam menjadi suatu konstruksi yang maha dahsyat indahnya. Allah sebagai Sang Pencipta (the Most Creator) senantiasa membuka lautan ilmunya bagi orang-orang yang mau bertafakkur, sebagai mana hadist Nabi :
تفكروا فى خلق الله ولا تفكر فى ذات الله

Dengan dalil itu merupakan dasar kuat, akan turunnya ilmu Allah pada diri manusia. Mungkin saja Istana yang megah tidak pernah dijamah oleh manusia sekalipun, membawa manusia akan keindahan ukiran/pahatan batu nan artistik. Akan tetapi manusia lambat laun akan merasa bosan dengan pemandangan yang ada. Yang menjadi pertanyaan apakah manusia bosan dengan tebaran bintang yang gemerlap di angkasa, atau cahaya rembulan yang bersinar menerangi kepekatan malam ?

Atas dasar pertanyaan itu, kemudian para raja zaman dahulu menjadikan penyejuk pandangan dan penawar kegelisahan hatinya atas problem-problem yang selama ini menghantuinya. Sebagian ahli hikmah bertutur,

"Kamu tidak akan mendapatkan ketenangan dan kepuasan di rumahmu, sebagaimana apa yang kamu dapatkan ketika memandang keindahan langit yang dihiasi oleh jutaan bintang, bulan dan galaksi di jagad raya ini".

Sebagian ahli tafsir menafsiri ayat ke-7 surah ad-Dzaariyah yang berbunyi :
والسماء ذات الحبك

Langit-langit itu mempunyai hiasan sebagai petunjuk yang jelas akan subyek keagungan ciptaan dan dari luasnya ilmu Allah. Hal itu semua menjadi bukti atas kehendak Allah dalam membedakan kecepatan gerak antara bulan, bumi, matahari dan planet lain yang banyak jumlahnya.

Dengan ayat tersebut Penciptaan Allah yang berada pada langit itu, menjadikan sumber keilmuan yang luar biasa. Adanya hari, bulan, tahun dan keilmuan astronomi lainnya merupakan bukti atas keagungan ciptaan Allah. Keberlanjutan kita yang senantiasa bertadabbur pada ciptaan Allah akan mendekatkan kita pada Allah dan menghilangkan keraguan kita akan kekuasaan Allah.

Terakhir kalinya Imam al-Ghazali menganjurkan kita akan mudawamah ala dzikrillah (keberlanjutan dalam berdzikir) baik itu dalam hati, lisan maupun pikiran kita, lewat proses tadabbur fi kholqillah. Dengan dalil Firman Allah:
واذكر الله قياما وقعودا

"Ingatlah Allah dalam segala aktifitasmu"
Dikutip dari "Al Bashiroh"